Selasa, 31 Desember 2013

SEPANJANG BRT 07

Diposting oleh Aughi Nurul Aqiila di 08.51


             
“Mbak kalau mau ke gunung jangan naik BRT ini.”
 
            Pica terhenyak. Sejurus kemudian tawanya mengudara. Mbak-mbak BRT ini adalah orang kesekian kalinya yang menyadari buruknya selera fashion Pica. Celana belel selutut, Topi rajut warna warni, ditambah kaos oblong dan jaket tebal, dipadu lagi dengan jam tangan Doraemon yang lebih mirip kompas. Belum lagi tas punggung yang lebih mirip tas gunung karena memang di rumah sudah tidak ada lagi tas yang bisa dipakai.
       Namanya Pica. Mungil, berantakan, tapi cuek. Semua yang ada padanya adalah buah kecuekannya terhadap sesama. Pica tak pernah peduli banyak orang yang memandangnya aneh, atau tak ada cowok yang mau dekat dengannya. Selama film kartun Doraemon masih tayang di TV, Pica masih bisa hidup dalam kesenangan. Dan tanpa kesepian.
          Udara dalam BRT kala itu terlampau dingin. Ditambah lagi cuaca Semarang kala itu juga dingin. Pica duduk sendirian di bagian depan BRT. Hanya ada 3 orang yang mengisi tempat duduk di sayap kiri bersama Pica. Dan 7 orang di sayap kanan. Pica merasakan atmosfer beku mulai memenuhi ruang tertutup itu. Walaupun dirinya sudah mengenakan jaket tebal, namun tetap saja kulitnya terasa tertusuk hawa dingin ini. Tanpa sadar pandangannya bertabrakan dengan sepasang kekasih yang tengah duduk di sudut BRT. Sang cowok memeluk cewek berambut sebahu yang Nampak kedinginan itu. Betapa hangatnya cewek itu. Dibandingkan dengan saat mengenakan jaket tebal milik Pica ini. Tentu dalam pelukan itu lebih hangat. Pica tersadar. Lamunannya sudah melenggang jauh. Dulu dia tidak pernah berpikiran macam-macam ketika melihat seperti itu. Hanya tawa yang sengaja dilepas bak ironi. Namun kali ini rasanya…
            Pica tak tahu apa yang berubah darinya.
       Cewek itu memejamkan mata, lalu mendadak dadanya terasa sesak. Pica pun berdiri dan menghampiri pak Sopir. “Bisa tolong dinaikkan suhunya?”
      Pak Sopir mengangguk. Pica pun duduk kembali. Dia tidak kuat melihat adegan yang berseliweran dalam bayangannya seraya mengejek. Maka dia meminta Pak Sopir untuk menaikkan suhu untuk menghentikan itu semua. Namun usahanya sia-sia. Sang cowok di kursi belakang itu tetap pada posisinya. Tak berubah sama sekali.
Sial!
Tak ada lagi yang dapat Pica lakukan selain menumpu pandangan pada sela-sela kendaraan yang lalu lalang. Menyelipkan kecemburuan di Antara ruang di ujung jalan.
***
            BRT koridor 4 telah memasuki Karangayu. Berhenti tepat di depan halte. Pica turun sembari melirik jam tangan Doraemon yang masih melingar manis di tangan kirinya. 14.30 WIB. Masih lama menuju tahun baru. Namun tak apa, Pica bisa pergi ke toko buku berlama-lama sampai perayaan tahun baru tiba. Inilah hobinya. Hingga dia terkadang lupa akan sekelilingnya. Dan karena hobi membaca buku ini, Pica tak sempat membaca hatinya sendiri.
       Pica harus menunggu BRT selanjutnya untuk melanjutkan perjalanannya ke simpang 5. Disampingnya duduk seorang bapak tua yang tengah mengeluarkan batang rokoknya. Cewek itu mendelik kaget. Bukan, bukan karena batang rokoknya tapi karena apa yang bapak itu keluarkan selanjutnya. Dia mengeluarkan sebatang korek api. Pelan-pelan digesekkannya batang korek itu pada bidang coklat tua yang ada di bungkusnya. Lama-lama timbulah percikan api. Tepat saat itu Pica menahan napas berat. Dia harus segera pergi dari sini.
***
         BRT yang ditunggu-tunggunya telah datang. Kali ini memajang angka 07 di kaca depannya. Mas-mas BRT sudah sejak beberapa detik lalu berkoar-koar menyebut “Penggaron”, tempat tujuan BRT yang akan Pica naiki. Pica pun naik dan memilih kursi yang sama. Sayap kiri bagian depan. Kursi favoritnya. Pica melirik jam tangan Doraemonnya. Pukul 15.00 WIB. Dia memajukan kepalanya untuk lebih leluasa melihat jalan.
        Selasa-selasa begini, BRT 07 jurusan Penggaron ini tidak ramai. Pica malah senang tak ada orang yang duduk di sebelahnya, yang mengharuskannya mengajak berbincang bagai sebuah keharusan. Tiba-tiba seseorang duduk menjejeri Pica. Cewek itu tak terlalu peduli. Dia pun melemparkan pandang pada jalanan kembali, sebelum memulai pembicaraan dengan orang itu menjadi sebuah keharusan.
         “Mbak bisa geser sedikit kepalanya? Aku juga mau lihat jalan,” ujar orang yang ternyata cowok itu. Pica mendesah. Sepertinya orang ini menyebalkan. Dia pun meletakkan kepalanya di kursi, memberi celah sesuai instruksi. Pica melirik sedikit ke arah cowok menyebalkan itu. Mendadak, matanya membulat. Ini bukan halusinasi, cowok itu sangat… tampan.
            Merasa diperhatikan, sang cowok berdehem. “Siapa namamu?”
            “Pica,” ujar Pica sambil menerima jabatan tangan cowok itu.
          “Nama yang unik,” ujar cowok itu sambil memperhatikan Pica dari ujung kaki sampai ujung kepala. Entah setan apa yang mempengaruhi Pica kali ini, karena untuk pertama kalinya Pica merasa tidak percaya diri terhadap penampilannya. Penampilan bak orang ingin naik gunung, begitu kata mbak-mbak BRT tadi. Biasanya Pica cuek. 
            Namun kali ini rasanya… 

        Pica hanya bisa tersenyum getir. Menertawakan dirinya sendiri dan apa yang berubah dari dirinya. “Ohya, nama kamu siapa?”
           “Pyro.”
           “Apa? Piro=berapa?” tanya Pica memastikan pendengarannya.
          “Bukan. P-Y-R-O. Pyro,” cowok itu tersenyum. Mungkin dia telah menerima tanggapan seperti itu untuk yang keseribu kalinya.
          “Nama kamu lebih unik,” tutur Pica pelan. Pyro hanya tertawa kecil.
         “Mau kemana Pica?” tanya Pyro.
         “Toko buku. Menunggu tahun baru,” jawab Pica dengan senyum.
         “Pasti mau ikut perayaan tahun baru di simpang 5 nanti malam ya?” Pyro ikut tersenyum. DEG! Pica tersadar, dia tak lagi menjadi dirinya. Untuk apa Pica membuka pembicaraan dengan mengkaitkan apa yang akan dia lakukan? Apa itu perlu untuk dua orang yang baru saling kenal? Pica merasa asing dengan dirinya sendiri. Belum pernah dia merasa antusias dengan orang yang baru dikenalnya.
            Kurasa, aku harus menutup pembicaraan ini. Lirih Pica dalam hati.
       “Ya.” Ujar Pica singkat. Kemudian dia segera mengalihkan tatapan pada jalanan kembali. Membentuk suatu tindakan tak mau diganggu lagi.
            Namun kelihatannya Pyro tak mengerti keadaan. “Aku juga mau ikut perayaan di simpang 5 nanti malam. Bareng, yuk!”
            Uhuk.
            Pica merasa tenggorokannya mengering.
            Pita suaranya rusak.
            Wajahnya memerah.
     Atmosfer bahagianya meletup. Namun refleks, otaknya tegas menggeleng. “Tidak. Terimakasih,” Pica berusaha untuk tidak tersenyum manis.
      Pyro tidak bereaksi apa-apa. Tak juga ada perubahan di raut wajahnya. Benar, sudah selesai. Pikir Pica. Namun dirinya salah. Saat itu juga Pyro menarik tangan Pica menuju pintu keluar BRT. Mereka turun di tempat yang tepat. Halte seberang toko buku. Dan Pica tak sadar jika tangan Pyro masih pada genggaman tangannya.
***
            “Harry Potter memang buku terbaik sepanjang masa. Tahu nggak waktu Voldemort berubah? Tampangnya jadi jelek banget, tahu!” Pyro masih terus mengoceh di dalam toko buku. Di saat Pica tengah asyik membaca komik Doraemon, Pyro malah mengoceh tentang kehebatan novel Harry Potter. Lalu berganti pada serial The Hobbit. Terkadang dia membicarakan novel Supernova. Sementara Pica mencoba untuk cuek. Hanya menanggapi dengan kata ‘hm’ atau mungkin ‘ya’ bisa juga ‘oh’.
            “Waktu Percy Jackson difilmkan, kamu nonton enggak?” Pyro tengah mengambil buku Percy Jackson dari rak.
            “Hm?” Pica menaikkan alis sambil serius membaca komik Doraemon yang hampir mencapai setengah dari seluruh halamannya.
            “Ah, sudahlah,” Pyro pun berlalu meninggalkan Pica. Dia mungkin mencari Percy Jackson yang lain. Namun Pica segera menutup komiknya. Dia memperhatikan Pyro dari kejauhan. Sebenarnya Pica tak tega tidak meladeni Pyro. Namun dia sudah terbiasa dengan hal ini. Terlalu lama dirinya tak pernah dekat dengan seorang cowok membuatnya tak tahu harus bersikap seperti apa di depan kaum lelaki.
            Biarlah. Biarlah ini menjadi kebiasaannya. Dari dulu sampai sekarang.
***
             Langit mendung. Pica tahu itu.
            “Pica, kamu bawa payung enggak?” tanya Pyro di depan toko buku.
            “Enggak,” jawabnya singkat. Duaarr! Petir mendadak datang menyambar.
           “Beli payung dulu yuk! Mau hujan nih kayaknya,” Pyro menarik tangan Pica lagi. Tapi cewek itu tangkas menepisnya.
         “Nggak usah. Kalau mau beli, beli sendiri aja. Aku bisa jalan sendiri walau hujan kok,” ujar Pica tegas.Matanya membulat, bukti bahwa ia berkata sungguh.
        “Nanti kalau kamu sakit gimana?” tanya Pyro. Sungguh, Pica serasa mau terbang dibuatnya. Pyro, cowok satu-satunya yang memperhatikannya lebih dibanding perhatian ibu ke anak. Pica tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Bahkan untuk memimpikannya pun dia enggan. Dan kali ini dia mengalaminya sendiri. Inikah realita?
          “I’m OK.” Ujar Pica sambil membentuk tanda ‘OK’ dengan tangannya. Pyro hanya tersenyum. Pica melirik jam tangan Doraemonnya. 20.00 WIB. Perut Pica merongrong minta diisi. Dia melirik ke arah Pyro. Cowok itu masih menatap Pica penuh perhatian.
            “Aku mau cari makan. Kamu di sini aja juga nggak apa-apa. Terimakasih untuk pertemuan ini. Nanti malam tahun baru. Aku harap di tahun yang baru nanti kita bisa ketemu lagi,” ujar Pica berat. Dia hampr tak percaya dia tengah mengucapkan kata perpisahan.
            Pyro melongo. “Aku ikut.”
            “Lho kok?”
            “Tadi aku ngajak kamu buat ikut perayaan tahun baru di simpang 5 bareng kan? Bukan Cuma ke toko buku bareng. Udah yuk cabut, laper nih!” Pyro menarik lagi tangan Pica hingga cewek itu tak kuasa menolak. Selalu saja, genggaman ini.
            Mereka makan di sepanjang trotoar simpang 5. Bukan makanan yang mahal, namun entah mengapa terasa begitu nikmat. Di bawah langit malam Pica tersenyum dan Pyro tertawa. Untuk pertama kalinya dia merasa nyaman berada di dekat cowok. Pica tak mau mengakui bahwa Pyro lah alasannya kenikmatan ini. Dialah oasis dalam BRT 07 tadi. Apa yang Fica butuhkan di tengah kehausan.
***
       Malam sudah mulai larut. Rombongan manusia datang berbondong-bondong memenuhi bundaran simpang 5. Sebuah band turut memeriahkan acara tersebut. Kini simpang 5 telah berjubel lautan manusia. Pica dan Pyro adalah salah satu yang terjebak di antaranya.
           “Masuk lebih dalam yuk. Ke dekat panggung. Nggak seru kalau Cuma di sini!” Lagi-lagi Pyro menarik tangan Pica. Cewek itu menurut saja. Walau kakinya terseok para manusia.
            Mendung mulai menguasai langit malam. Pica tahu, sebentar lagi pasti hujan akan datang. Dia mengerti apa yang harus dilakukannya. “Pyro, aku kesana sebentar ya. Sepertinya ada temenku di sana,” Pica menunjuk salah satu titik keramaian.
          “Kamu di sini aja.” Ujar Pica tegas. Sebelum sempat Pyro menolak, Pica keburu pergi. Dan langit sudah tidak bisa diajak kompromi.
            Hujan turun mulai dari rintik hingga menderas. Pica sekarang sendirian di tengah kerumunan orang. Dia tidak benar-benar melihat temannya. Itu hanyalah satu alasan baginya untuk menghindar dari Pyro. Cewek itu tak mau Pyro melakukan hal di saat hujan yang dapat membuatnya jatuh cinta. Entah hanya karena Pyro melindunginya saat hujan. Pica tak mau itu terjadi. Pyro bukan siapa-siapa. Pica tak mau jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Pyro, seseorang yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu. Pica menggeleng. Dia tak sadar air matanya menetes. Tapi hujan telah menutupinya hingga tak seorangpun tahu Pica tengah menangis.
          Sementara itu Pyro berjalan kalang kabut mencari Pica. Hujan deras yang membasahi tubuhnya yang telah kuyub itu tak dihiraukan. Dia berlari kesana kemari hingga menemukan sosok yang taka sing baginya. Itu Pica. Cewek yang paling mencolok. Pica memang paling aneh di antara mereka—cewek-cewek itu.
         “PICA!” teriak Pyro. Lantas, Pica menoleh. Ketika melihat Pyro, air matanya menderas bersama hujan yang ikut menderas. Dia pasrah. Mau dibawa kemana hati ini?
            Pyro membuka tasnya. Dia mengambil jaket kulit tebal dari sana. Lalu dia melindungi Pica dengan jaket itu, sementara tubuhnya menggigil kedinginan.
            “Ini punya kamu. Pakai saja sendiri,” Pica menyodorkan jaket pada Pyro. Cowok itu menatap tajam Pica.
            “Pakai saja! Jangan keras kepala!” bentak Pyro. Cowok itu menatap tajam wajah Pica. Cewek itu menunduk takut dan menuruti perintahnya. Pica memejamkan mata. Pyro bukan benar-benar membentaknya. Dia hanya tengah berusaha melindungi Pica. Cewek itu tersenyum.
***
           Hujan mulai reda. Walaupun Pyro telah memberikan jaketnya pada Pica, cewek itu tetap basah kuyub. Setidaknya lebih kering dari tubuh Pyro.
           “Kamu… nggak apa-apa kan?” ketika bertanya seperti itu, bibir Pica bergetar.
            Benarkah hatinya ingin dia memberi perhatian seperti itu?
            Pyro terhenyak. Dia hanya tersenyum lalu berkata, “I’m OK.”
            Tiba-tiba Pyro mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Pelan-pelan, namun sontak membuat Pica terkejut. Cewek itu mundur beberapa langkah kecil. Pica menggeleng. Napasnya naik turun.
            Korek api.
            Lalu Pica teringat akan tragedi di halte BRT tadi siang. Uhuk.
            “Biar hangat, aku mau nyalain api ya,” ujar Pyro santai.
        “Jangan… Pyro, jangan…” lirih  Pica berat. Detak jantungnya berkolaborasi dengan detik tangan Pyro mulai menggesekkan batang korek pada bungkusnya itu.
            Pyro mengernyit. Batang korek itu dia turunkan. “Kenapa?”
      “Kumohon, jangan…” lirihnya lagi. Wajah Pica terlihat berkeringat dingin. Pyro makin mengernyit. Namun tangannya tetap menggesek batang korek api itu.
            “Jujur saja, setelah semua keunikanmu itu, aku merasa permohonanmulah yang paling…”
            JESS!
            Api pun menyala.
            DORR!
            Bersamaan dengan meluncurnya kembang api tahun baru.
            Lalu, Kembang api dan petasan yang jadi saksi di udara, tragedi lalu kembali terjadi.
            Pica terpaku sebelum akhirnya jatuh. Ambruk.
            “Unik” sambung Pyro. Lalu secepat mungkin dirinya menahan Pica yang ambruk. Di tangannya, Pica tergolek lemas.
***
            Samar-samar Pica melihat cahaya putih. Dia mendesak matanya untuk membuka lebih lebar lagi. Dan dia menemukan sosok Pyro di dekatnya. Sejurus kemudian dia ingat apa yang terjadi, dan mengapa dia ada di sini.
            “Maaf,” lirik Pica.
           “Aku memang phobia sama api,” Pica berkata sambil menertawakan dirinya sendiri. Phobia ini lagi-lagi menyusahkan orang.
“Aku yang minta maaf karena aku bener-bener nggak tahu,” tutur Pyro sedih. Pica tersenyum.
“Aku yang minta maaf karena nggak bilang dulu sama kamu,” ujarnya. Pica masih tersenyum. Entah mengapa dia mulai terbiasa dengan dirinya yang asing. Dirinya mulai bisa menerima sisi hati yang tak pernah disapa oleh siapapun kini malah menerima seorang tamu untuk diajak masuk.
“Kamu itu pengidap…” Pyro memejamkan mata. Mencoba mencari-cari jawaban.
Pyro-phobia!”
Tepat saat Pyro mengatakan itu, dunia serasa berhenti berputar. Jarum jam serasa berhenti berdetak. Begitu juga detak jantung Pica. Pyro memeluknya. Tubuh tegap tinggi itu memeluknya cepat. Erat.
Pica mendorong tubuh Pyro jauh-jauh.
“Apa-apaan kamu?!” bentak Pica.
“Kamu sendiri apa-apan dengan hatimu?” ujar Pyro sambil tertawa getir. “Kamu tak pernah membiarkan hatimu berbicara. Kamu selalu menutupinya dengan bilang ‘tidak’. Bahkan sampai aku tadi memelukmu, sebenarnya… itukah yang kau inginkan? Kau sebenarnya ingin cinta dari seorang lelaki, iya kan? Tapi kamu menutupi semua rasa itu dengan semua kecuekanmu kan?” Pyro menubruk hati Pica dengan kata-kata yang bertubi-tubi itu.
Pica merasakan dadanya sesak.
Apakah dia harus menyadari bahwa yang dikatakan Pyro adalah… benar?
“Aku ini Pyro. Pyro-phobia. Aku datang sebagai buah ketakutanmu pada api. Namun aku terjebak dalam bara api hatimu, Pica. Api yang selama ini selalu kau tutupi, dan tak pernah mau kau sadari,” jelas Pyro.
Pica terhenyak. Apa ini semua mimpi?
Pyro=Pyro-phobia?
“Ini hidup, Pica. Kamu nggak bisa hidup sendiri. Kamu butuh orang lain. Secuek apapun kamu, kamu tetep butuh cinta. Jangan bohongi dirimu sendiri! Ini hidup, sayang…” Pyro berkata tegas. Dipeluknya lagi cewek itu. Erat. Hingga Pica tak bisa bernapas. Matanya terpejam. Dia tak sadar bahwa dia tengah berada dalam tidur panjang.
***
            “Mbak bangun! BRT nya sudah datang!” teriak mas-mas BRT. Pica terbangun. Dia gelagapan. Dia memandang sekeliling. Dimana Pyro?
         Dengan seribu tanda tanya di dada, langkahnya tetap terayun masuk ke BRT. Dia duduk di sayap kiri bagian depan. Cewek itu melirik jam. 15.00 WIB. Hari Selasa. 31 Desember. Aneh.
            Tiba-tiba seorang cowok datang menjejeri duduknya. Wajahnya mirip seperti…. Pyro?
        Pica mempertajam penglihatannya. Menekuri setiap jengkal wajahnya. Tiba-tiba cowok itu menyodorkan tangan. “Aku Pyro. Nama kamu siapa?”
            Mendadak, Pica kehabisan napas.
           
           

0 komentar:

Posting Komentar

 

TITTLE Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos